Platina Data
Keigo Higashino
Eri Pramestiningtyas (Penerjemah)
Gramedia Pustaka Utama, 480 hal
e-book
Sinopsis
Berawal dari Ajun Inspektur Asama yang baru saja menerima laporan tentang adanya pembunuhan seorang wanita muda. Jejak yang tertinggal di TKP hanyalah sehelai rambut yang harus segera diselidiki secepatnya. Penyelidikan melibatkan beberapa institusi rekanan kepolisian yakni Institusi Riset Analisa Khusus (IRAK) dan IRIKN.
Salah satu ilmuwan IRAK yang bernama Kagura mampu dengan fasih dan lancar membeberkan hasil pencitraan pelaku pembunuhan tersebut lengkap dengan ciri spesifik dan detailnya. Belum selesai satu kasus, muncul kasus pembunuhan lain yang menghebohkan yakni terbunuhnya kakak beradik genius yang selama ini bekerja keras dalam memecahkan sandi dan kode tertentu yang berkaitan dengan penemuan basis data yang disebut sebagai platina data.
Kematian kakak beradik Tateshina Bersaudara ini begitu misterius dan polisi mencurigai keterlibatan salah satu ilmuwan di IRAK yang bernama Kagura dan kebetulan karena mereka bertiga pernah menjadi pasien dokter Minakami Yojiro, dokter spesialis Neurologi. Kagura sendiri memiliki kepribadian ganda dan harus terus mengonsumsi obat yang diresepkan sang dokter.
Akhirnya Kagura menjadi buronan dan dalam pengejaran itu dirinya kadang berubah menjadi pribadi yang lain dengan nama Ryuhei, kadang berubah kembali menjadi Kagura sendiri. Di tengah pengejaran itulah Asama berhasil membuka komunikasi dengan pemuda itu.
Keduanya sadar dan mengetahui bahwa ada suatu sistem yang kuncinya selama ini disembunyikan di balik lukisan dan diincar oleh si pembunuh. Ketiganya akhirnya bertemu dan si pelaku berhasil merebutnya bahkan nyaris melumpuhkan Asama dan Kagura.
Ulasan
Tak pernah menyangka Kagura yang selalu dipandang sebagai bagian dari sistem penelitian DNA dan menjadi orang penting, ternyata berbalik dikejar-kejar sebagai buronan dengan tuduhan yang tak main-main, yakni menghilangkan barang bukti tentang keberadaan pelaku kejahatan yang dinamai dengan kode NF13.
Drama yang awalnya terkesan monoton dengan para tokoh kepolisian serta ilmuwan yang tumpang tindih menyodorkan analisisnya, perlahan naik tensinya menjelang di paruh akhir cerita. Terutama keterlibatan sang inspektur yang gigih menerjang segala birokrasi dan keinginan membekuk pelaku secepatnya.
Serangkaian misteri akhirnya terkuak tentang sosok pelaku NF13 ini. Terkesan tegang namun sesungguhnya menurut saya, elemen kejutannya agak tidak memancarkan rasa terperangah yang dahsyat karena sepak terjang si pelaku tidak diangkat terlalu besar, Sementara platina data begitu ditonjolkan namun tidak cukup sebagai penarik rasa ingin tahu.
Anehnya, saya malah bisa menebak sosok inilah pelakunya kala kehadirannya yang tiba-tiba dan agak janggal itu muncul dan ngotot ingin mendampingi Asama. Sebagai sebuah cerita kisahnya cukup menarik selain juga judulnya yang atraktif dan unik.
Interaksi antara intern kepolisian dengan penelitian berbasis DNA (IRIKN) yang diwakili oleh ajun inspektur Asama serta diwarnai pula oleh tarik ulur dengan Kagura cs cukup membuat kedua sosok yang mewakili institusi masing-masing ini memiliki kekuasaan yang menantang.
Meskipun terkesan biasa dengan masalah pembunuhan dan kejahatan, sesungguhnya novel ini menyindir bahkan menusuk lebih dalam tentang ide pengumpulan segala basis data informasi dan identitas, lengkap dengan ciri-ciri khusus yang menyertai secara detail terhadap seluruh warga. Misi awal tentu saja agar penangkapan warga yang bersalah lebih mudah, cepat, efisien dan terarah.
Namun menjadi masalah saat data yang digolongkan sebagai platina data tersebut menyangkut dan menyimpan data para pejabat atau warga yang diistimewakan yang parahnya tidak diselidiki dan ditangkap. Pihak yang berwenang bersikap berat sebelah dan mendua atas kecenderungan sekelompok orang yang mampu melenggang lolos tanpa diproses hukum, diantaranya adalah sosok NF13 ini.
Kurasa pasti mereka menyadari bahwa identitas asli NF13 tidak kunjung terungkap bukan semata-mata disebabkan kurangnya data, melainkan karena kecacatan pada sistem (hal 397)
Keigo dengan pelan namun pasti menggiring kita untuk memahami mengapa platina data ini menjadi pisau bermata dua, sesuatu yang merugikan kendati manfaatnya juga besar. Oleh sebab itu, pengumpulan informasi data berikut identitas itu mau tak mau tetap dijalankan meski warga menyetujui setengah hati. Dengan kata lain risiko besar membayangi warga karena datanya sudah bukan rahasia lagi.













Tidak ada komentar: