The Tenant
Freida McFadden
Poisoned Pen Press, 368 hal
e-book
Sinopsis
Karena telah dipecat dari kantor akibat tuduhan yang tak berdasar dari atasannya, Blake kehilangan pemasukan untuk melunasi cicilan kediamannya. Setelah berembug dengan tunangannya yang juga tinggal bersamanya, Krista, Blake akhirnya membuka salah satu kamarnya untuk disewakan.
Penyewa cantik yang akhirnya berminat untuk tinggal bersama adalah Whitney Cross yang sehari-harinya bekerja di sebuah kafe. Awalnya kehidupan mereka bertiga cukup tenang hingga akhirnya sedikit demi sedikit muncul ketidaknyamanan yang bersumber dari perilaku Whitney. Cewek ini cenderung berbuat sesukanya tanpa ada perasaan bersalah hingga memancing kemarahan tuan rumah. Mulai dari menghabiskan persediaan camilan Blake hingga menyimpan buah busuk yang mengundang lalat di dapur.
Dari awalnya jengkel akhirnya Blake terobsesi untuk membalas semua perbuatan Whitney dan ingin mengusirnya. Namun peraturan sewa menyewa melarang pemilik rumah mengusir penyewa tanpa alasan yang jelas.
Didorong oleh kemarahan yang memuncak, cowok ini mulai menelusuri latar belakang Whitney hingga akhirnya terbukalah segala rahasia yang nyaris tidak pernah diketahui dan melibatkan tunangannya.
Ulasan
Kali ini Freida bercerita tentang si penyewa yang tindak tanduknya sangat menguras pikiran sang tuan rumah. Interaksi yang berujung perseteruan kasar antara Blake Porter dengan penyewa cantik bernama Whitney Cross ini kadang sampai di luar nalar dan membuat pembaca ikut terseret dalam dramanya.
Lumayan bikin gregetan dengan sikap Blake yang rada kekanak-kanakan dan tidak berpikir taktis dalam menyikapi ulah si penyewa. Dan Freida cukup rapi untuk menyembunyikan siapa sebenarnya yang menjadi dalang keributan di antara keduanya.
Aroma suspense begitu lekat terdeteksi. Mulai dari rasa gatal akibat alergi, camilan yang dikuras habis, buah busuk di kabinet dapur, matinya Goldy-si ikan kesayangan Krista hingga menyebabkan sang tunangan angkat kaki dari apartemen hingga yang terburuk, kematian si tetangga yang misterius.
Awalnya saya ikut gemas dengan segala permasalahan domestik itu, namun lama kelamaan cerita kian liar dan terlintas bahwa ini adalah kesengajaan untuk menyudutkan cowok yang malang ini. Saya pun bisa mencurigai sosok lainnya yang memang seharusnya bertanggung jawab atas segala kegaduhan di kediaman Blake dan ya, kali ini benar dugaan saya ada sosok lain lagi yang mengincar kejatuhan Blake.
Plot yang menentukan terjadi saat Blake mulai menyelidiki masa lalu Whitney. Dari sini alur cerita mulai menukik dan page turner banget diwarnai dengan keterkejutan cowok ini saat mengetahui siapa sebenarnya wanita yang menyamar sebagai Whitney. Sungguh melegakan sekali mengetahui segalanya menjadi terang benderang seakan selubung tabir itu terungkap dengan cepat.
Gaya berceritanya masih memakai 2 pov, 3 pov malah. Secara keseluruhan ceritanya menarik karena mengambil sudut pandang pria di mana sangat sulit untuk menyelami perasaan pria yang sejujurnya dari kulit luarnya terlihat tenang dan tak ada masalah namun sesungguhnya di dalamnya penuh gejolak. Siapa sangka Blake punya perasaan benci yang menggelegak terhadap Whitney, sebaliknya Krista justru bestie banget dengan si penyewa.
Sebagai tokoh protagonis pria, sosok yang dihadirkan agak berbeda dari novel-novel karya Freida dan menurut saya The Tenant memberi nuansa lain yang menyegarkan. Selama ini tokoh utama selalu perempuan, dan ternyata cowok pun tidak kalah dalam hal membicarakan perasaan serta lebih mampu memancing kericuhan. Di sini pengarang menggambarkan Blake sebagai cowok yang serba tak tahu menahu mengapa pelaku menyerang, memanipulasi bahkan ingin membunuh dirinya.
So you have to understand, Mr. Porter, she says, if you have done something to Whitney, she will never let it go. Not a year later-not ten years later. No matter how long it takes, she will make sure you pay the price (p.381)
Blake adalah pria yang lurus hati, mencintai tunangannya sepenuh hati, pernah satu kali selingkuh dengan rekan di kantor, tampan namun rapuh serta naif dalam mencerna segala hal terlebih membaca kondisi serta situasi yang kacau di apartemennya.
Kecurigaan yang muncul terhadap si penyewa hanya sebatas curiga yang tidak diimbangi dengan tindakan yang kurang cepat. Ketika Blake nyaris mati diracuni, pada saat itulah plot twist itu muncul.
Setelah mengikuti kisah-kisah yang disodori oleh pengarang ini, perlahan kita pun akhirnya bisa menebak dan sedikit menganalisis yang manakah si pelaku ini. Kali ini tebakan saya tepat, namun belum cukup tahu alasan atau motif apa yang mendorong pelaku untuk begitu benci hingga berniat mengakhiri hidup cowok sebaik Blake. Cerita yang lagi-lagi selalu mencengangkan bagi saya dan menikmati keseruannya sampai tamat.













Tidak ada komentar: