Kokokan Mencari Arumbawangi
Cyntha Hariadi
Gramedia Pustaka Utama 348 hal
IPusSulteng
Sinopsis
Nanamama sebenarnya telah lama merindukan ada anak perempuan untuk menemani Kakaputu, putranya yang kerap bermain sendirian. Jadi, ketika di tengah hari yang begitu hiruk pikuk saat mengurus sawah, tiba-tiba saja muncul seekor kokokan terbang rendah dan menjatuhkan kantong kecokelatan di kebun bawang merah Nanamama, pemandangan itu tentu saja membuatnya terkejut.
Kantong itu ternyata berisi seorang anak perempuan berusia dua tahun yang lucu menggemaskan dan sangat pemberani. Ia diberi nama Arumbawangi dan resmi menjadi anggota termuda di tengah keluarga itu.
Kakaputu menganggap Arumbawangi adiknya adalah anugerah yang selama ini ia inginkan. Mereka akhirnya selalu pergi berdua ke mana-mana bersama, bersekolah, bertualang menjelajah ladang dan hutan bermain-main apa saja. Tak peduli si kembar -anak tetangga rumah yang selalu mengolok-olok bahkan merundungnya itu mengusik ketenangan mereka berdua. Biasanya Arumbawangi selalu bisa membalas perlakuan si kembar.
Saat layangan Kakaputu tersangkut di pohon kelapa yang tinggi dan akan mengambilnya, tak disangka kakak beradik ini justru bisa berkenalan dengan Jojo putra pemilik hotel yang selalu bersedih meratapi kepergian almarhum ibunya. Tak perlu waktu lama untuk menjadikan mereka bertiga sahabat.
Pada suatu hari pemilik hotel yang dipanggil dengan Pak Budi itu ingin meluaskan area hotelnya dan berencana mencaplok beberapa tanah di sekitar termasuk lahan sawah milik Nanamama. Tentu saja Nanamama tidak bersedia menjual tanahnya demi apa pun. Ia mempertahankan setiap jengkal tanah dengan sengit hingga membuat warga desa ikut membencinya. Akibat fitnah keji, Nanamama di penjara, sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal.
Tinggallah Kakaputu dan Arumbawangi kebingungan akan masa depan mereka berdua. Arumbawangi akhirnya mengambil langkah besar yang bijak bagi anak seusianya.
Ulasan
Indah, menawan, magis tapi juga miris saat membaca novel ini. Arumbawangi yang datang ke tengah keluarga Nanamama dan Kakaputu memberi torehan semangat akan dunia anak-anak yang polos, lugu namun bertanggung jawab.Seperti oase yang memberi semangat bagi kedua ibu dan putranya.
Alur cerita yang membumi, semi dongeng namun sarat akan ajaran moral membuat saya merasa novel ini bisa jadi akan menembus ruang waktu ke depan yang tak lekang oleh masa. Penceritaannya yang selalu berpihak pada semesta, alam, makhluk hidup berikut ruang luas seutuhnya memaksa kita merenung bahwa alam dan seisinya sudah memberi kita berkah luar biasa, mengapa kita mengacaukan dan memusnahkannya.
Menarik dibaca karena tak hanya sekadar cerita tentang kedua bocah yang selalu bersama dan rukun dalam berbagai hal namun di dalamnya kita akan merasakan bahwa ada pesan semesta yang sejatinya memang harus dikedepankan demi kelangsungan hidup bumi; dalam hal ini tanah, air, hewan-hewan serta tanaman yang sangat bergantung dengan keberadaannya.
Manusia selain menjadi pembela juga menjadi perusak. Menjadi pemelihara juga sekaligus pemusnah harapan. Dua alur cerita yang beriringan antara kehidupan kanak-kanak yang begitu damai penuh riang gembira, disandingkan dengan kekuasaan yang harus dijalani demi nafsu uang.
Pengarang begitu piawai dalam membingkai cerita agar menjadi sesuatu yang terus melekat di ingatan. Kisah yang berisikan etengah dongeng tapi juga mengandung realita yang tidak main-main yakni urusan pemaksaan tanah yang melibatkan pihak berwajib. Itulah fakta yang tidak mengagetkan di masa kini.
Aku ini petani. Nggak semua orang punya otak bisnis. Kalau sepi, lama-lama bangkrut. Aku lebih bisa mengandalkan tanahku yang kukenal seperti diriku sendiri. Dan tanah tak akan pernah mati, asal kita masih punya tangan dan kaki (hal 111).
Lewat tokoh Nanamama kita hanya bisa berharap ia menjadi tonggak keberanian yang dielu-elukan, meski kandas perlawanannya setidaknya, ada perjuangan keras untuk menentang. Musuhnya toh hanyalah ego para warga desa yang ingin menggenggam uang hasil penjualan sawah secepatnya.
Sementara Arumbawangi menurut saya tokoh ini mampu menjadi penyeimbang di antara urusan dewasa dan dunia bocah yang bersahaja. Lewat kaca mata anak-anak yang bening dan tanpa dosa, sawah beserta hewan yang beterbangan di atasnya tetaplah menjadi arena bermain, tempat berkejar-kejaran yang menyenangkan. Bila tak ada sawah, ke mana lagi bisa berjumpa dengan capung, kupu-kupu dan kokokan?













Tidak ada komentar: