Halte Alam Baka: Wadah Bertukar kabar Dua Dunia


 
 
Halte Alam Bangka
Kai Elian
Gramedia Pustaka Utama, 280 hal
IPusSulteng
 
 

Sinopsis 

 
Tessa tahu dirinya salah telah mengambil secara paksa bayi milik putranya, Reno. Cucu yang diberi nama Kasih ini nantinya akan ia didik dengan lingkungan yang paling tepat yakni di kediamannya yang mewah dan tanpa ada masyarakat yang mengetahuinya. Tessa sendiri sedang merintis karier sebagai bagian dari kader partai politik. Apa kata orang bila Reno dan pacarnya punya bayi hasil kecelakaan dan keduanya masih anak SMA? Rasa malu harus segera cepat dibungkam.
 
Selain itu ia juga sedang membuat proyek pembuatan buku otobiografi yang penyusunannya dikerjakan oleh Darryl, wartawan senior pada koran Suara Kita. Kebetulan di harian yang sama, ada wartawan baru bernama Julian yang diserahi mengelola cerita-cerita urban bertajuk Kisah Pembaca
 
Salah satu kisah yang kerap memancing rasa penasaran dan menimbulkan keheranan serentak adalah cerita tentang kemunculan halte merah dengan sesosok nenek tua yang sedang merajut lengkap dengan bola-bola benangnya yang menjulur di sekitarnya. 
 
Hanya orang tertentu yang terlalu rindu dengan kerabatnya yang sudah tiadalah yang mampu melihat keberadaan halte tesebut. Salah satunya adalah Julian dan Tessa. Keduanya memiliki motivasi tertentu dan ingin sekali merasakan berada di halte yang telah menjadi buah bibir itu.
 
Hingga pada waktu dan momen yang tepat akhirnya keduanya bisa menatap dengan mata kepala sendiri di hadapan mereka yakni halte merah, halte alam baka, dan menemukan apa yang telah lama dicari, sosok yang sangat dirindukan dan membuat mimpi itu menjadi kenyataan walau sesaat. Pertemuan yang mengharukan sekaligus melegakan. 
 
 

 Ulasan

 
 
Novel yang begitu pas dalam menceritakan kondisi antara dunia orang mati dengan mereka yang masih hidup. Lewat perantara nenek si tukang rajut ini, fenomena pertemuan antara si mati dengan keluarga yang ditinggalkan ini jadi serasa dekat dan tergambar nyata serta mengharukan.
 
Alur ceritanya sangat berkorelasi satu sama lain, dengan pergerakan lini masa maju mundur, sementara karakternya dibangun kuat secara batin. Tokoh-tokoh yang mengisi cerita begitu dominan tanpa terkesan menonjol. Satu sama lain menggelinding dengan caranya sendiri hingga pada di satu titik mereka bertemu juga akhirnya.
 
Saya mengapresiasi sekali ide ceritanya yang terkesan aneh namun realistis ini. Ada muatan kesadaran yang menjurus ke urusan religi dan keyakinan tentang alam lain berikut mereka yang telah tiada. Lewat Halte Alam Baka, manusia ditunjukkan secara gampang saja bahwa mereka yang telah pergi sudah tenang serta bahagia. Dan kita yang masih hidup harus tetap berjuang menyelesaikan berbagai masalah. 
 
Saya paling suka tokoh Tessa dan Gama di mana keduanya begitu intens dengan niatnya dan tetap konsisten sampai nasib mengombang-ambingkan mereka berdua dan terdampar di tempat yang tak terduga, sebuah rumah di tepi pantai nan sejuk lengkap dengan halte bercat merah tak jauh dari sana kepunyaan si nenek rajut. Begitu ia menyaksikan sosok yang selalu ia rindukan berada di halte bersama si nenek, spontan hatinya meleleh menjadi sejuk seketika. 
 
Peran yang penting tentu saja disematkan pada nenek perajut yang diam-diam mendominasi panggung dengan keanggunan dan ketenangannya untuk menjadi medium bagi kedua alam. Tak hanya itu, ia juga bertugas sebagai penyambung mata rantai yang sempat terputus serta pemberi informasi yang tak kasat mata. Apakah sang nenek ini adalah malaikat atau jin yang baik? Anggap saja begitu.
 

Sulit menyelesaikan maraton yang melelahkan jika kita tidak tahu apa yang ada di garis finish. Terkadang hanya dengan memberi sedikit kilasan tentang apa yang menanti di ujung sana, sudah cukup membuat orang-orang sudah tahu tentang kekuatan cinta (hal. 275).

 
Cerita yang indah, manis dan mengharukan, dengan detail pengakuan yang mengesankan dan begitu padat meskipun novelnya tidak tebal, hanya 200-an halaman saja. Kemasan akhir ceritanya begitu tertata rapi tanpa menye-menye. Alurnya menjurus ke adegan film dengan emosi-emosi terdalamnya, terkumpul semua di halte tersebut. Sebuah katarsis yang melegakan.
 
Pada dasarnya apa pun yang manusia lakukan sejatinya mereka telah dituntun tanpa sadar untuk menemukan apa yang mereka cari selama ini. Jati diri yang sempat terlepas akibat gempuran emosi sesaat itu akhirnya terajut kembali.
 
Halte Alam Baka: Wadah Bertukar kabar Dua Dunia Halte Alam Baka: Wadah Bertukar kabar Dua Dunia Reviewed by Erna Maryo on Juli 05, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.