Rumah Kaca di Ujung Bumi
Kim Cho-yeop
Iingliana (Penerjemah)
Gramedia Pustaka Utama, 376 hal
IPusSulteng
Sinopsis
Naomi dan Amara nyaris putus asa ketika akhirnya menemukan suaka tempat berlindung bernama Frim Village dari bencana badai dust yang terus bergerak di wilayah Kepong Johor Bahru, Malaysia. Musim panas 2055, di suaka ini, alih-alih menakutkan, situasinya justru sangat menyenangkan. Suaka yang dianggap sebagai desa ini memiliki pemimpin bernama Danny dan Ji-su ssi, dua orang wanita yang tangguh dan memiliki keahlian dalam mengokang senjata dan mekanik robot.
Di desa itu terdapat pula sebuah rumah kaca yang sepanjang hari terang benderang karena di dalamnya ada sosok bernama Rachel, cyborg yang sangat suka meneliti tumbuhan dan tak pernah berinteraksi dengan warga desa. Cyborg ini berjasa besar dalam menemukan dan mengolah berbagai jenis tumbuhan baik yang bermutasi maupun yang tidak, dan biasanya digunakan sebagai bibit sayuran dan bisa dipanen.
Salah satu mahakarya tumbuhan ciptaan Rachel adalah Mossvana, serumpun ilalang yang mampu meredam badai dust dan menyerapnya ke dalam tanah. Mossvana mampu menghalau dan menjadi tameng pelindung agar bumi tidak terlalu rusak oleh efek badai. Selain memancarkan sinar kebiru-biruan, ilalang ini tumbuh cepat menutupi semua permukaan yang dilaluinya entah tanah, desa, pepohonan, hingga bebatuan.
Sementara itu di masa berikutnya pada tahun 2129, usai Era dust berakhir, seorang peneliti muda Korea bernama Ah-yeong mendapat laporan bahwa di kota Haewol telah terjadi penyebaran tumbuhan aneh yang sulit untuk dibasmi yang tak lain adalah mossvana.
Setelah melalui serangkaian penelitian dan penyelidikan, selain takjub dengan masifnya penyebaran tumbuhan mossvana, Ah-yeong akhirnya berjumpa dengan Naomi si manusia yang resistan dari badai dust serta Rachel di sebuah pameran. Keduanya memberikan pandangan baru dan menyadari bahwa bumi sekali lagi terselamatkan dari kepunahan.
Ulasan
Saat menatap gambar sampulnya saya sempat merasa bahwa isi ceritanya pasti berkisar tentang imajinasi dan khayalan yang berlebihan. Saya belum menyadari bahwa genre ini adalah fiksi ilmiah sehingga hal yang berkaitan dengan penelitian ilmiah, cyborg, hovercar, robot dan sebutan kaum resistan menjadi sesuatu yang wajar, bahkan pertemanan antara manusia dengan cyborg atau robot menjadi adegan yang tidak aneh lagi.
Setiap kisah yang mengandung fiksi ilmiah atau pun utopia, pasti akan menarik karena jelas di dalamnya akan ada misi tentang bagaimana dunia ini akan berlangsung menurut kacamata pengarangnya. Novel ini yang meskipun memuat khayalan dan teknologi masa depan yang belum bisa diprediksi bakal seperti apa, saya merasa betah dan tidak bosan membacanya sampai habis.
Petualangan Naomi dan Amara dalam mencari tempat suaka untuk menyelamatkan diri dan agar terhindar dari kejaran kaum pemburu maupun penyusup hingga menemukan desa yang ajaib itu, banyak memberi pemahaman bahwa manusia pada dasarnya memiliki naluri untuk terus bertahan dan mampu beradaptasi dengan ruang (kubah) dan waktu yang berantakan.
Kendati didukung oleh penemuan tumbuhan-tumbuhan yang menghasilkan bahan pangan, rasa takut akan kematian dan sedihnya harus meninggalkan suasana yang telanjur sudah menyenangkan mau tak mau memberi kita gambaran bahwa lagi-lagi manusia selalu terikat oleh sesuatu, berat meninggalkan sesuatu.
Kemunculan tumbuhan liar semacam ilalang yang menyebar ke mana-mana, menjadi penyelamat akan berakhirnya Era Dust yang digambarkan sangat menakutkan karena mampu meluluhlantakan semua yang hidup, membinasakan sumber pangan serta menghapus peradaban.
Ceritanya sangat relevan dengan kondisi sekarang di mana bumi yang kita pijak ini setiap detiknya selalu tidak lepas dari berbagai bencana alam akibat ulah manusia, perubahan iklim dan suhu yang ekstrem. Manusia-manusia seperti Ji-su ssi, peneliti Ah-yeong, serta Naomi sendiri setidaknya telah hadir memberikan kontribusi dan gambaran yang sepadan.
Alur ceritanya simpel saja, dengan sepenggal kilas balik dan kejadian masa kini (tahun 2129) di mana Ah-yeong harus pergi melanglang buana demi menemukan Naomi, saksi hidup yang selamat dari badai dust, yang mampu meracik zat pelarut serta menyebarkan ilalang Mossvana yang mampu bertahan dan melindungi bumi dengan caranya yang sederhana; tumbuh menyebar menutupi seluruh permukaan.
Cerita ini tak hanya mengusung soal lingkungan dan masa depan bumi namun juga penghuninya yang mencemaskan keadaan diri mereka di masa mendatang, akan bagaimanakah jadinya. Hidup atau mati hanya itu jawabannya. Rasa takut menjadi hal yang sangat manusiawi dan ditampilkan dengan begitu pahit dalam dialog yang ironisnya justru terjadi antara manusia dengan cyborg, Rachel.
Kita sedang menyongsong kepunahan. Meskipun orang-orang di dalam kubah berhasil bertahan hidup sampai akhir, kau pasti bisa menebak seperti apa dunia yang tercipta. Dunia itu tidak akan bertahan lama (hal 215).
Pada akhirnya kita hanya bisa menatap dan menyaksikan bahwa bumi entah bagaimanapun jadinya, tetaplah menjadi tempat berpijak yang paling kita rindukan lengkap dengan pepohonan hijau, hewan yang berkeliaran serta manusia itu sendiri yang mampu beradaptasi. Semoga bumi tidak hancur lagi.













Tidak ada komentar: