Korpus Uterus
Sasti Gotama
Gramedia Pustaka Utama, 296 hal
PYC Digilib
Sinopsis
Panuluh yang lahir dan bertelinga seperti kembang kol itu ternyata tak diinginkan ibunya. Sang Ibu yang bernama Kalimah rupanya lebih memilih bergumul dan tenggelam dalam teks-teks cerita yang bisa diperjualbelikan demi menyambung hidup, sebagai pengarang ia pun punya nama samaran sendiri, yakni Mardi S. Begitu pangsa pasar pembaca lebih menyukai kisah-kisah stensilan, hidup Kalimah benar-benar dituangkan hanya untuk menulis cerita picisan hingga Luh terabaikan.
Luh yang masih balita dan merangkak kabur tanpa sengaja dari rumah dan terdampar di sebuah kompleks gang Dolly yang penuh dengan perempuan-perempuan panggilan namun berhati emas. Anak laki itu ditampung, disekolahkan hingga berjumpa dengan dokter Markus (Marcia Kusmini), dokter wanita yang mampu memberi pengetahuan baru tentang organ reproduksi wanita.
Kepiawaian Luh ditambah kemampuannya yang mampu mendengar sangat tajam dari jarak tertentu sangat membantu dalam menjalankan kegiatan aborsi ilegal untuk para wanita-wanita yang terjepit oleh kepanikan dan rasa malu.
Segala peristiwa datang silih berganti dengan banyak pasien yang datang dan pergi serta mencarinya meskipun Luh sudah beberapa kali harus berpindah tempat demi menghindari kejaran pihak berwajib. Sambil membawa selalu stoples yang berisi rahim milik salah satu pasiennya, ia terus berkelana dan tanpa sadar ia berjumpa kembali dengan sosok yang menyandang nama Mardi S.
Ulasan
Ketika Luh telah banyak mencecap banyak arti tentang kerasnya kehidupan yang dijalani para perempuan di sebuah tempat bernama gang Dolly, saat itulah ia bertekad untuk membantu membebaskan mereka dari penderitaan hamil tanpa bersuami dan telantar karena aib.
Novel ini cukup lugas memberi batasan bahwa kalau bicara norma masyarakat dan aib yang harus ditanggung, maka benturan itu jatuhnya tetap ke korban perempuan yang terpaksa harus menerima konsekuensi kehamilan yang tidak diinginkan.
Aborsi memang dilarang namun masa depan perempuan juga harus ikut dipikirkan. Novel ini tak serta merta memberi penghakiman secara hitam putih, meskipun pro kontra, kehadiran Luh nyatanya seperti bintang terang. Luh hadir sebagai penyelamat. Tokoh ini begitu polos dan apa adanya, ia senantiasa menolong mereka yang ingin menggugurkan kandungan yang ironisnya justru Luh sendiri tak diinginkan oleh ibunya.
Makin lama dia makin lihai. Dengan kupingnya, dia bisa mengetahui dengan cepat usia janin lewat detak jantung janin itu. Dia juga memastikan tebal lapisan endometrium lewat ketukan sendok kuret dalam rahim seperti kelelawar yang menggaungkan suaranya dalam gua (hal 169).
Saya suka ceritanya yang begitu blak-blakan, dan mengumbar hal yang tabu serta membedah tubuh perempuan dengan begitu transparan. Novel yang terkait pengetahuan seperti ini sangat diperlukan meskipun nantinya akan memancing diskusi panjang. Tokohnya begitu kuat dan saling memiliki keterkaitan. Kendati permasalahan Maryam agak mengecewakan, namun pertemuan Luh dengan sang pemilik rahim tempat dirinya bernaung dulu akhirnya melegakan saya. Menggantung sedikit, namun itulah akhir yang dipilih.













Tidak ada komentar: