Penance: Hutang Penebusan yang Merongrong Jiwa


 
 
Penance
Minato Kanae
Mulholland Books, 240 hal
e-book 
 

 Sinopsis

 
Terbunuhnya Emily, anak perempuan dari keluarga paling mampu yang tinggal di apartemen sekaligus kawan sepermainan Sae, Maki, Akiko dan Yuka di sebuah kamar ganti di sekolah, telah membuat situasi semuanya berubah mencekam. Awalnya, saat mereka sedang bermain, tiba-tiba muncul seorang pria yang mengaku sebagai tukang yang akan memperbaiki salah satu rumah dan meminta diantar Emily.
 
Selang tak berapa lama, mereka terkejut mendapati Emily telah tewas di tempat, sementara si tukang menghilang. Segera keempat anak perempuan itu berbagi tugas. Ada yang pergi memberitahukan peristiwa itu ke kantor polisi, ada yang menghubungi ibu Emily, ada pula yang pulang ke rumah guna mengabari keluarga.
 
Asako, ibunda Emily terkejut dan tak mampu menerima kenyataan akan kematian putri semata wayangnya. Setelahnya, ia menyalahkan dan justru memberi ultimatum pada anak-anak perempuan itu untuk melakukan penebusan dosa dengan cara segera menemukan siapa pembunuhnya. Seiring waktu berjalan, semuanya menjalani kehidupan yang berat di masa dewasanya dan akibat dibebani penebusan tersebut, mereka terpaksa melalui semua ini dengan terseok-seok.
 
 

Ulasan 

   
 
Novel yang menceritakan soal penebusan mungkin terasa begitu sakral, namun yang diceritakan di sini sangat menggugah karena ada beban memori yang mengendap selama lima belas tahun dan harus dipaksa untuk diungkapkan. Meskipun fiksi, cerita yang ditulis oleh pengarang Jepang sering kali memberi dampak yang membuat pembacanya baper, termangu, lemah dan bergidik, salah satunya adalah Penance.
 
Perjalanan dan pertemanan masa kecil bagi keempat gadis seperti Sae, Maki, Akiko dan Yuka pada dasarnya biasa saja. Cerita mulai bergeser ke masa dewasa di mana masing-masing telah menjalani kehidupan yang penuh dengan dinamika. Ketika harus melewati lorong panjang kehampaan hidup akibat teringat akan tuntutan ibunda Emily, mereka pada akhirnya tak luput juga mengalami beban psikologis yang tak kalah beratnya. 
 
Tak ada yang mengira bahwa kenangan masa lalu saat di sekolah dahulu diam-diam telah membentuk cara pandang, perilaku dan penerimaan terhadap luka lama. Ada yang mengaku sukar untuk bangkit apalagi melupakan, ada pula yang mampu dengan tersendat-sendat hingga bisa menegakkan kepala. Bahkan, dibanding dengan cara ketiga sahabatnya yang beraksi dalam diam, Yuka cenderung menjawab tantangan penebusan dosa dari Asako yakni dengan langsung mencari pembunuh Emily.
 

I would find the murderer. I didn't do it for you, though...I did it for my brother-in-law (page 200). 

 
Rasa bersalah, ketidaktahuan dan kehadiran orang jahat di masa lalu dalam perspektif anak-anak sangat terasa memberi dampak buruk saat sama-sama dewasa. Bagaimana pun penebusan yang didengung-dengungkan itu telah menjadi hutang yang mau tidak mau harus ditunaikan.
 
Dan ketika penebusan itu telah 'terbayar', anehnya, ternyata tidak ada kelegaan sama sekali yang terjadi, justru luka itu makin tertoreh tanpa ada perbannya. Asako sebagai pencetus penebusan dosa pada akhirnya malah melakukan penebusan lain akibat kisah masa lalunya dengan sahabatnya yang bernama Akie. 
 
Novel ini menguras perasaan bukan karena banyaknya emosi yang meletup-letup namun sebaliknya, disuguhkan dengan perlahan, emosi yang dipendam dengan jiwa yang makin terpuruk dan terpenjara di tengah tuntutan demi menemukan pembunuh Emily. Kisah ini saya baca dengan jeda yang cukup lama karena sebentar-sebentar saya perlu kontemplasi akibat begitu pekat aura penebusannya. 
 
 
Penance: Hutang Penebusan yang Merongrong Jiwa Penance: Hutang Penebusan yang Merongrong Jiwa Reviewed by Erna Maryo on September 20, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.