Jejak Balak
Ayu Welirang
Gramedia Pustaka Utama, 384 hal
iPusnas-Web
Sinopsis
Dima Sawitri terkejut mendapati dirinya akan dimutasikan ke cabang surat kabar lain di luar Jakarta. Meskipun masih dalam satu jaringan surat kabar yang sama, bekerja di Kaba Jorong yang berlokasi di Pasaman Barat Sumbar ini terasa berbeda dan rupanya langsung memaksa wartawati ini untuk segera beradaptasi dan mengorek berita dengan cepat.
Bersama Pijar Timur Matari alias Timur, mereka berdua menangani kasus yang cukup pelik dan misterius dimana dua pembalak liar telah ditemukan tewas terbunuh di sebuah hutan adat yang dilindungi, disusul petugas ekskavasi dari perkebunan sawit milik PT Zamrud Bumi. Dan tak berjarak lama jatuh korban lagi seorang oknum pemuda yang semasa hidupnya hanya ingin menjual lahan demi keuntungan pribadinya sendiri.
Semua tubuh korbannya selalu ditemui adanya jejak cakaran hewan serupa Inyiak-manusia harimau yang dianggap sebagai datuk suci bagi sebagian warga yang tinggal di hutan itu. Korban terakhir dan kebetulan selamat dari cakaran misterius itu adalah Agam salah satu rekan Dima sesama wartawan Kaba Jorong yang rupanya sedang berburu secara ilegal di hutan Pasaman.
Kendati seperti minyak bertemu air, Dima dan Timur cukup akur bila sudah mulai menyelidiki dan membedah hasil wawancara para narasumber. Meskipun dicap terlalu sensitif dan berani, mereka berdua kompak untuk mengangkat peristiwa pembunuhan ini ke dalam suatu kisah di berita daring Kaba Jorong.
Rentetan pembunuhan ini juga melibatkan Mahzar si orang Kehutanan yang nampaknya tahu benar dan telah banyak makan asam garam tentang hutan berikut permasalahannya.
Selain Mahzar, Dima juga menghubungi beberapa narasumber lainnya dan sejauh ini ia telah menyimpan kecurigaan tentang siapa dalang sesungguhnya pembunuhan yang sangat sadis itu. Tak pernah menyangka pertemuannya di Kafe Rimbun dengan sang narasumber penting ini menyeretnya ke dalam bencana yang menakutkan.
Ulasan
Sebagai pemenang kedua lomba novel triller GPU x GWP 2022, rasanya kita sangat menaruh harapan besar akan isi ceritanya. Novel yang mengambil latar di sebuah wilayah hutan yang dilindungi di kawasan Pasaman Barat ini bercerita tentang lingkungan yang tergerus oleh ulah manusia sehingga berdampak bagi semua pihak. Unsur kriminal diselipkan dan menjadi daya tarik paling seru.
Membaca ceritanya memberikan pemahaman bahwa antara lingkungan alam dan warga yang berada di sekitarnya harus saling bersinergi kalau tidak ingin ada ekses hingga mengakibatkan jatuhnya korban. Ide ceritanya menarik sih dikaitkan dengan penyelidikan dan kerja wartawan yang ambisius demi memperoleh berita.
Di awalnya, cerita terkesan biasa-biasa saja, membumi sekali. Terlihat sekali alurnya terasa lamban seakan mengulur waktu dengan mengumpulkan banyak informasi penting dahulu sembari memperkenalkan para tokoh yang akan terlibat lebih dalam. Karakter Dima dan Timur menjadi duo sentral yang kadang bisa bekerja sama dengan tenang kadang diwarnai oleh ketidaksesuaian entah dalam dialog atau tindakan.
Bila di awalnya terasa menunda-nunda begitu, ternyata eksekusinya sangat keren dan menegangkan. Sudah lama gak pernah baca novel Indonesia yang
berbau investigasi sedetail ini. Alur ceritanya rapi dengan sedikit
bocoran di sana-sini yang menjurus ke pelakunya. Suatu prestasi untuk
saya sendiri yang biasanya sulit menebak siapa pelakunya namun kali ini
dengan mudahnya saya langsung tahu siapa sesungguhnya biang kerok
terjadinya rentetan pembunuhan di hutan.
Awal cerita yang slow burn mungkin lebih karena ingin menampilkan sisi lain dari kerja wartawan berikut tetek bengeknya dan bagaimana relasi serta kedekatan hubungan antara Dima dan Timur itu perlahan terbangun kimiawinya. Padahal saya berharap ada romansa diantara mereka.
Awal cerita yang slow burn mungkin lebih karena ingin menampilkan sisi lain dari kerja wartawan berikut tetek bengeknya dan bagaimana relasi serta kedekatan hubungan antara Dima dan Timur itu perlahan terbangun kimiawinya. Padahal saya berharap ada romansa diantara mereka.
Manusia harimau
Ketika keduanya berdiskusi tentang Inyiak yang dipandang sakral itu, pembaca sedikit digiring untuk menebak siapa sebenarnya orang yang ingin menyamar sebagai manusia harimau itu dan melakukan tindak kejahatan. Layaknya sebuah novel misteri, ada beberapa calon pelaku semisal Agam yang ternyata hobi berburu atau Timur sendiri yang kerap terserang Somnambulis-tidur sambil berjalan yang potensial untuk dijadikan tersangka. Siapakah dia, apakah mereka atau justru bukan keduanya?
Pelaku hafal jalur pendakian dan kawasan konservasi. Tubuh prima dan kuat mendaki dalam jangka waktu lama, sebelum atau setelah melakukan kejahatannya. Pelaku tahu dan punya akses membeli anestesi hewan. Pelaku tangkas dan menggunakan senjata berbentuk kuku (hal 273).
Terlepas dari
kisahnya yang menyoroti tentang pembalakan liar, ide ceritanya mantul
dikemas secara kekinian dengan eksekusi yang cermat dan rinci. Inilah yang mungkin menjadi pertimbangan mengapa Jejak Balak bisa keluar sebagai pemenang kedua. Sebab, tanpa riset serius dan paduan antara emosi manusianya dengan alam yang marah sehingga mendatangkan banjir bah, cerita tentang wartawan yang berdinas di negeri antah-berantah nampak terasa basi kalau tidak mau dikatakan biasa sekali.
Tokoh lainnya yang muncul tak hanya sekadar pelengkap, namun justru memberi gebrakan salah satunya Mahzar yang simpatik dan 'tenang' ketimbang yang lainnya. Layaknya petugas kehutanan yang berdedikasi, ia digambarkan sebagai sosok penengah pertikaian diantara Timur dengan Bang Adri, si polisi reserse.
Paling menarik tentu saja mempelajari karakter Dima dan
Timur yang sama-sama keras namun seolah menemukan 'karmanya' ketika harus
berjuang untuk hidup di tengah hujan badai galodo dan saling menyelamatkan
satu sama lain. Adegan ketika Timur jatuh terjun ke sungai demi
menyelamatkan Dima dari incaran pelaku sungguh epik sekali. Bisa dibayangkan situasinya ketika alam marah dikombinasikan dengan ketidakberdayaan manusia melawannya, yang ada hanya kecemasan dan panik melanda. Horor sekaligus menantang.
Satu lagi, sampul novelnya menurut saya cukup bagus terutama kombinasi antara warna merah dan hitamnya yang tepat sekali menggambarkan isi cerita di dalamnya.
Tidak ada komentar: