The Burning God-Sang Dewi Api
R.F. Kuang
Meggy Soedjatmiko- Alih bahasa
Gramedia Pustaka Utama
iPusnas
Sinopsis
Setelah mengakhiri Perang Opium Ketiga, Fang Runin alias Rin semakin memperkuat kedudukan di Koalisi Selatan dan sebagai komandan ia berhak untuk menentukan manuver apa yang akan dilancarkan untuk menumpas pasukan Mugen yang berada di provinsi Ayam.
Saat berada di tengah pembebasan di Khudla, ia bertemu dengan pemimpin gerilya Serigala Besi bernama Yang Souji dan mengajaknya bergabung dengan pasukan Koalisi Selatan. Bersama Panglima Perang provinsi Monyet, mereka menuju Sarang Lebah, sebutan bagi jaringan kota Leiyang yang bisa menjadi batu loncatan untuk menyerang Mugen. Di tempat inilah ia berjumpa pertama kalinya dengan Su Daji Maharani Nikan atau si Ular Betina yang menancapkan Segel bisa ke dalam tubuh Rin.
Di tengah pertempuran itu, tiba-tiba para petinggi Koalisi Selatan termasuk Souji berkhianat dan mendepak Rin. Beruntung sebelum menyerahkan dirinya ke tangan penguasa Republik, ia ditolong oleh Daji yang membawanya ke gunung Chuluu Korigh-penjara batu, di provinsi Ular untuk diasingkan.
Rin diubah menjadi patung batu namun tak lama kemudian batu yang mengeras itu dihancurkan oleh Jiang Ziya sang mentor Rin saat bersekolah di Akademi dulu. Jiang dan Daji adalah bagian dari Trifecta dan bersama Rin ketiganya menuju Gunung Baolei, tempat di mana orang ketiga dari Trifecta yang bernama Riga berdiam.
Sedianya Rin ingin melibatkan para anggota Trifecta ini sebagai sekutunya untuk menyerang musuh, namun lagi-lagi ia dikhianati. Rin menghukum para pengkhianat termasuk Vaisra lewat semburan api phoenixnya.
Perjalanan dilanjutkan kembali hingga ke Kuil Surgawi dan di sanalah Riga terbaring dan dihidupkan kembali. Sia-sialah upaya Rin untuk merekrut Trifecta karena alih-alih membantunya memerangi Mugen, ia justru dianiaya hingga mampu melarikan diri keluar dari gunung Tianshan.
Berbagai hambatan dilaluinya hingga akhirnya pasukan Rin harus berkompromi. Akibat logistik yang menipis dan ketidakmampuannya dalam mengelola pemerintahan baru di kota Jinzhou hasil kemenangan dari Nezha yang menyerah, Rin memutuskan untuk menyetujui kesepakatan yang sangat dilematis meninggalkan Nezha yang hanya bisa menangis meraung-raung.
Ulasan
Akhirnya berhasil juga membaca novel ketiganya, yang seperti sudah kita ketahui bahwa sepak terjang Rin di novel sebelumnya berujung pada kebenciannya pada Maharani Kerajaan Nikan, Su Daji dan menggantung begitu saja ceritanya.
Di novel The Burning God ini, Rin akhirnya berjumpa kembali dengan Daji saat Koalisi Selatan sedang menyisir wilayah usai pembebasan wilayah Khudla. Banyak pekerjaan yang harus dituntaskan oleh Rin terutama dalam merebut kembali wilayah Selatan yang diduduki oleh kaum Hesperia.
Lagi-lagi cerita sebagian besar berisi manuver, taktik perang dan hasrat yang besar dari seorang gadis petarung saat mengalahkan musuh serta keinginan untuk membuktikan diri bahwa orang yang tadinya dipandang rendah mampu memberi pengaruh besar di tengah perang yang bergejolak. Musuh Rin kali ini adalah Nezha, teman yang sama-sama menempuh pendidikan di Sinegard.
Dihantui masa lalu
Di bagian ketiga novel ini Rin masih saja dihinggapi oleh pertentangan batin dan konflik emosi yang membuat dirinya selalu saja salah langkah dan kerap menyesali keterlibatannya dengan para oportunis. Setelah menewaskan para dedengkot Koalisi Selatan dan kelompok Trifecta, Rin seharusnya sudah bisa merasa tenang untuk memperjuangkan kemerdekaan dari kungkungan armada pasukan Hesperia. Namun lagi-lagi ia masih diliputi kebimbangan dan dihantui masa lalu.
Pertemuannya kembali dengan Daji yang tiba-tiba berbalik menjadi sangat baik dan tulus, mantan mentornya yang nyentrik Jiang, keterikatan dengan sahabatnya Kitay, dirinya yang berasal dari Speer dan kerap membuatnya minder mewarnai hari-hari panjang dalam rangka mengalahkan orang-orang Republik dan pasukan Mugen.
Tetapi saat ini Rin tak memikirkan soal pemerintahan jangka panjang. Ia ingin Nezha mati, Republik runtuh, selatan bebas, dan orang-orang Hesperia diusir. Ia tidak terlalu peduli apa yang sementara itu terjadi pada daerah sumber Nikan. (hal 490)
Selain perang dan perang lagi, kondisi kejiwaan cewek yang mampu mengeluarkan api lewat celah jemarinya ini justru menarik untuk dikulik. Novel ini memang sebagian besar bercerita tentang taktik, manuver dan perjalanan perang yang menggila serta dampaknya bagi orang-orang yang berada di sekelilingnya. Sisi lain dari gadis petarung berupa pertentangan batin pun sangat dominan memenuhi cerita.
Menurut saya, pribadi Rin memang tak bisa secara tiba-tiba diharapkan menjadi tenang dan manis. Hal itu wajar saja karena di sekelilingnya adalah lingkungan perang yang kejam dan bengis yang tentu saja berpengaruh besar bagi perkembangan jiwanya. Kendati begitu ia masih memiliki rasa empati yang dalam ketika mengetahui kedua perempuan di barisan pasukannya hendak dihukum oleh para prajuritnya.
Alumnus Sinegard
Hal yang sangat mempengaruhi kondisi psikisnya tak lain adalah kehadiran phoenix, Altan dan hantu-hantu masa lalu. Napas heroik yang dihembuskan Rin cukup memberi kita gambaran bahwa hidup Rin hanya akan berpusat pada bagaimana ia mengalahkan musuh. Berbagai taktik yang ia terapkan seharusnya berhasil karena ia dan Kitay adalah alumnus Akademi militer di Sinegard dan berpengalaman dalam perang. Dan Kitay adalah sauhnya yang paling diandalkan serta terpercaya.
Membaca novel ini serasa kita ikut menjelajah dan merasakan kelelahan atas semua perjalanan yang ditempuh para pasukan yang dipimpin Rin. Alh-alih ada secercah sinar yang menenteramkan, nyatanya kita hanya akan menemui berbagai kegagalan yang terus beruntun mengiringi perjalanan prajurit.
Pasukan yang mulai berkurang, logistik yang tak cukup, tumpukan catatan dan dokumen pemerintahan yang harus dibereskan dari penguasa terdahulu serta tantangan sekaligus godaan untuk selalu ingin menaklukkan musuh menjadikan keletihan psikis begitu terasa melanda Rin dan orang-orang kepercayaannya. Upaya Rin yang cerdas untuk mengelabui serangan Nezha dengan menciptakan syaman (sihir) lain lewat para relawan dianggap berhasil meski hanya sesaat hingga semua akhirnya tewas mengenaskan.
Syamanisme
Jadi, setelah membaca sampai tamat ini apa yang bisa kita simpulkan dari novel setebal 700-an halaman ini? Pergolakan emosi dan semangat pantang menyerah begitu mewarnai hati gadis ini. Sikapnya yang naif dan agak picik menjadi hambatan terbesar untuk menerima berbagai usulan yang ditawarkan untuk menyerah. Mungkin Rin punya alasan tersendiri mengapa ia mati-matian ingin mengalahkan musuh.
Pengarang nampaknya terlalu setia pada pakem bahwa peperangan, syamanisme dan Rin telah menjadi satu kesatuan yang tak bakal terpisahkan. Tak ada kisah lain yang melenceng selain menyelesaikan kelanjutan nasib Rin, sahabatnya Kitay dan musuh besarnya yang memiliki dewa Naga, Nezha. Tak pernah menyangka sama sekali Nezha dan Rin harus saling berhadapan bertarung dan masing-masing mengeluarkan senjata andalannya, dewa api melawan dewa naga. Persis seperti yang disampaikan lewat sampul depan di novel ini.
Kalau bukan karena didorong oleh rasa penasaran, membacanya saja rasanya sudah bosan banget. Namun, alih-alih gregetan oleh sikap Rin, kita bisa merasakan bahwa dibalik sikapnya yang kaku Rin adalah pribadi yang tulus, setia kawan dan memiliki empati. Sayangnya takdir tak memungkinkan ia menunjukkan lebih banyak lagi sisi baik dari pribadinya itu.
Merongrong jiwa
Bagian ketiga dari trilogi ini begitu memelas,
menggelisahkan sekaligus menyedihkan bagi mereka yang terlibat dalam
peperangan tiada akhir. Fang Runin alias Rin masih merajalela dengan
kekuatan syaman phoenixnya, sementara Kitay selalu menjadi pihak yang
bijak dan ahli strategi paling brilian yang pernah dipunyai pasukan Rin.
Emosi, kekhawatiran dan kegelisahan menjadi tahap-tahap paling krusial yang mewarnai perjalanan Rin dalam menaklukkan kota-kota yang dikuasai pihak Republik. Perseteruannya dengan Nezha-sesama murid Akademi Sinegard telah merongrong jiwa Rin yang haus kemenangan.
Pada satu titik di mana kelelahan telah mendera, ketiganya-Rin, Kitay, Nezha memutuskan suatu kesepakatan perang yang berakhir dengan begitu anti klimaks. Rin yang grusa grusu, mudah tersulut amarah, cewek yang picik, naif namun setia pada sauhnya itu terpaksa mengambil keputusan dilematis. Ending yang sangat aneh dan saya menyayangkan tindakan yang diambil oleh Rin.
Emosi, kekhawatiran dan kegelisahan menjadi tahap-tahap paling krusial yang mewarnai perjalanan Rin dalam menaklukkan kota-kota yang dikuasai pihak Republik. Perseteruannya dengan Nezha-sesama murid Akademi Sinegard telah merongrong jiwa Rin yang haus kemenangan.
Pada satu titik di mana kelelahan telah mendera, ketiganya-Rin, Kitay, Nezha memutuskan suatu kesepakatan perang yang berakhir dengan begitu anti klimaks. Rin yang grusa grusu, mudah tersulut amarah, cewek yang picik, naif namun setia pada sauhnya itu terpaksa mengambil keputusan dilematis. Ending yang sangat aneh dan saya menyayangkan tindakan yang diambil oleh Rin.
Tidak ada komentar: