Book's Kitchen
Kim Jee Hye
Iingliana-Penerjemah
Gramedia, 280 hal
Scribd
Sinopsis
Sebuah toko buku dengan konsep menggabungkan kafe, penginapan dan hobi membaca menjadi tempat yang menarik untuk didatangi. Toko buku yang juga menyediakan penginapan ini didirikan oleh Yu-jin, seseorang yang merindukan suasana lain setelah merasa jenuh dengan kehidupan yang membebani sebelumnya.
Tak perlu menanti lama, toko buku ini telah merebut hati pengunjungnya yang beraneka latar belakang untuk mendatangi sekaligus mencecap kehangatan yang ditawarkan oleh Soyang-ri Book's Kitchen. Salah satu yang terkesan adalah Da-in yang ternyata pintar menyanyi, namun hatinya terasa hampa dan merasa energinya selalu habis sehingga ia perlu untuk menyepi sejenak ke toko buku itu dan merasakan kegairahan kembali untuk bangkit.
Lalu ada Choi So-hee, Na-yun, serta Ma-ri yang diam-diam menderita Ripley Syndrome. Semuanya datang membawa cerita masing-masing. Sebagai bagian dari tamu penginapan, mereka pun merasa seolah bahwa toko buku ini telah menjadi 'milik' mereka bersama dan nuansa yang diciptakan sangat melekat dalam ingatan sehingga pada saat mereka pergi, mereka bisa meninggalkannya dengan hati yang penuh terisi kelegaan.
Ulasan
Setiap membaca novel tentang buku apalagi toko buku, selalu akan muncul rasa tenang dan damai sekaligus mengantuk. Tulisan tentang dapur buku ini memang diciptakan untuk manusia-manusia anteng dan gak perlu banyak drama yang meletup.
Meskipun kehidupan yang diangkat adalah toko buku, bukan berarti ceritanya adem ayem saja tanpa ada konflik. Gejolak mulai banyak bermunculan justru datang dari para tamu pengunjung baik yang menginap maupun yang tanpa sengaja mampir dan berlanjut menyambangi toko buku ini.
Konsepnya mungkin ingin menanamkan gaya hidup slow living dan dimanfaatkan sebagai wahana penyembuhan. Dan ini memang sejalan dengan dunia yang akhir-akhir ini terasa berjalan terlalu cepat akibat tuntutan kebutuhan. Sang pemilik, Yu-jin berperan menjadi jangkar menenangkan dan menjadikan semuanya melambat untuk sesaat
Novel yang menguarkan rasa empati yang dalam, suasana tenang dan rileks serta kehangatan yang melekat erat di sepanjang ceritanya.
Tak hanya tentang alur cerita dan karakternya yang beragam, diksi dan lukisan kata yang menyertai latar sebuah dapur buku menjadi kelebihan novel ini untuk terus dibaca. Apalagi kalimat-kalimatnya sarat mengandung elemen ketenangan terlebih saat mengurai berbagai belitan masa lalu yang menimpa para tamu penginapan yang singgah tak sengaja.
Ada beberapa tokoh yang salah satunya mampu menemukan jalan keluar dalam menyalurkan segala keresahan hati dengan penuh ketenangan dan itu menjadi poin penting dalam mengenali aspek-aspek apa saja yang tepat untuk dirinya demi mencapai healing. Sesuatu yang hanya bisa didapat di dalam sebuah toko buku unik seperti ini.
Mencuci piring adalah salah satu hobi Su-hyeok. Ia suka memasukkan peralatan makan kotor-piring yang masih memiliki sisa sup kimchi ke dalam air hangat, mencucinya sampai bersih dan membiarkannya mengering di suhu ruangan. Rasanya segala kekacauan dalam hatinya dirapikan satu per satu. Setelah berjalan-jalan cukup lama, ia merasa pikirannya lebih ringan (h 173)
Yu-jin, Si-woo dan Hyeong-jun masing-masing memiliki kisah yang saling berkelindan dengan jejak masa lalu mereka sendiri baik antar teman, rekan kerja atau keluarga. Seluruhnya terurai dalam satu ruang kafe buku yang nyaman.
Cerita sederhana yang dengan manisnya dibalut oleh kehangatan dan keramahan nan tulus membuat yang membacanya turut merasa lega dan rileks. Selalu akan ada jalan untuk keluar dari persoalan pelik.













Tidak ada komentar: