The Mortician
Ririn Ayu
Gramedia Pustaka Utama, 224 hal
IPusSulteng
Sinopsis
Sebagai perias mayat, Noah Hasler sangat kompeten dalam mempercantik tampilan mayat hingga menjadi sesosok yang hidup seakan mayat nampak hanya tertidur dan terlihat lebih cantik atau tampan -bila jasadnya lelaki.Noah sangat menyukai pekerjaan ini dan hasil karyanya selalu menuai pujian dari beberapa keluarga almarhum atau almarhumah.
Segalanya nampak sempurna tanpa ada yang tahu bahwa Noah tak hanya menyukai pekerjaannya namun juga mencintai mayat secara harfiah, terutama mayat perempuan. Sebagai pengidap nekrofilia, ia akan sangat senang apabila mendapatkan mayat perempuan karena dengannya, Noah akan langsung meniduri si mayat saat itu juga. Bahkan ia pun mengoleksi kuku dan rambut mayat-mayat perempuan yang tersimpan rapi dalam stoples kaca di ruang tersembunyi di rumahnya.
Pertemuannya dengan Christabel makin membuat hasratnya makin dalam. Lelaki ini setengah berkhayal ingin melihat Chris menjadi mayat perempuannya dan menidurinya. Kekasih Chris yang bernama Nils Muller sudah beberapa kali memperingati gadis itu untuk menjauhi Noah karena naluri polisi yang dimilikinya mengatakan bahwa Noah bukan seorang pria baik-baik.
Ulasan
Membaca novel ini sungguh memberi semacam wawasan baru tentang adanya suatu kelainan yang menjurus pada pemenuhan kebutuhan paling purba; yakni seks, yang justru dilakukan terhadap mayat-mayat yang nota bene sudah tidak ada gairah sama sekali.
Menarik untuk mengkaji mengapa novel ini mampu memberi gambaran tentang nekrofilia dengan sangat mulus, rapi dan terkesan biasa padahal sebenarnya itu menjijikkan. Kita akan melihatnya lewat sosok Noah yang menjadi pusat cerita dengan segala hasrat terpendam, kelainannya bahkan pertemanannya dengan gadis berambut merah dan bagaimana keinginan itu harus dirahasiakan rapat-rapat.
Dorongan dan gejolak dalam diri dan pikiran Noah menjadi hal yang sangat penting demi memberi penegasan bahwa pengidap nekrofilia akan sangat tertekan bila hasratnya tertunda apalagi dihalangi. Ujung-ujungnya ia akan berubah menjadi sosok kejam dan menjurus ke urusan kriminal.
Novel ini berhasil memberi sudut pandang bahwa Noah sendiri pun meskipun terkesan dingin, masih memiliki perasaan kasih terhadap lawan jenis. Namun, bila dijalin dalam hubungan percintaan kemungkinan sosok seperti Noah justru akan merasa hambar dan lagi-lagi ia akan lebih suka bercinta dengan lawan jenis yang sudah menjadi mayat.
Aku mencintaimu Chris, tapi aku lebih suka kamu dalam wujud mayat, bisik Noah. Semuanya akan normal kembali kalau kamu mati. Lalu kita bercinta sepuasnya dan kamu bisa pergi ke alam baka setelah aku membuatmu bahagia (hal 218)
Alur ceritanya sangat seru karena keinginan pembaca ternyata diabaikan, bahkan polah sang tokoh jahat makin menjadi-jadi dengan tidak menyisakan ruang satu pun untuk tokoh baik untuk membela dirinya. Sang kelinci akhirnya masuk perangkap.
Selain mengambil latar cerita dengan lokasi di Andermatt, Jerman, berikut para tokohnya yang asli lokal padahal pengarangnya orang Indonesia, namun situasi yang dibuat mampu membuat pembaca seolah menganggap ini karya terjemahan yang hook banget. Cukup keren untuk pengarang Indonesia yang bisa mengangkat cerita ini seolah ada di luar negeri.













Tidak ada komentar: