Alex
(Camille Verhoeven #2)
Pierre Lemaitre
Mimma Sutisna (Translator)
Gramedia Pustaka Utama, 440 hal
Sinopsis
Telah terjadi penculikan dan penyekapan yang menimpa seorang gadis bernama Alex Prevost, dan kasus ini ditangani oleh Komandan polisi Camille. Selama penyelidikan sedikit kejanggalan memenuhi pikiran Camille yakni, tidak pernah adanya laporan kehilangan dari keluarganya. Seakan Alex hidup sendirian dan tidak pernah ada yang mencari keberadaannya.
Saat lokasi penculikan itu akhirnya diketahui dan dilakukan pembebasan oleh tim gabungan kepolisian, mereka hanya mendapati kerangkeng yang kosong dan tidak ditemukan Alex di sana. Gadis itu sudah melarikan diri lebih dulu. Hilangnya Alex justru membuat sang komandan lebih intens menyelidiki latar belakang Alex dan kemisteriusannya.
Rupanya Alex yang kerap menyamar dan berganti-ganti wig ini sering kencan dengan para pria yang memanfaatkan tubuhnya. Lalu sesudahnya ia akan menghabisi nyawa mereka dengan seliter asam sulfat pekat yang dituang langsung ke tenggorokan dan menjarah hartanya.
Banyak yang menaruh dendam pada Alex, salah satunya adalah penyekapnya yang tak lain adalah ayah Pascal Trarieux. Pascal adalah salah satu yang tergiur oleh godaan tubuh Alex dan jasadnya ditemukan di dekat talang air. Sang Ayah ingin menuntut balas, namun dirinya sendiri malah bunuh diri saat ditangkap polisi
Sementara itu petualangan Alex makin merambah dari pria muda ke kaum paruh baya. Kendati sering melakukan pembunuhan terhadap mereka yang mengencaninya, jauh di lubuk hatinya Alex merasa hidupnya sangat hampa dan kosong. Kekecewaan dan perlakuan yang tidak senonoh yang kerap ia terima dari kakak tirinya, Thomas Vasseur, semasa kecil hingga dewasa memaksanya untuk merancang kematian agar sang kakak bejat ini bisa ditangkap dan dihukum dengan tuduhan yang berat.
Ulasan
Luar biasa, kasus kriminal yang nampaknya sederhana dan terdengar sepele itu lama kelamaan menjadi ruwet akibat kebobrokan perilaku dan mental yang ditimbulkan oleh satu orang pecundang. Dan pemicunya adalah seorang gadis. Alex bukanlah wanita yang biasa-biasa saja. Ia menjadi istimewa justru karena kematiannya mengundang keprihatinan dan perhatian besar dari Komandan polisi Camille.
Semasa hidupnya Alex kenyang mengalami pelecehan baik dari keluarga maupun lingkungannya yang buruk. Sepak terjangnya yang berbau kematian dengan aksi yang sadis dalam memperlakukan para korbnnya itu selalu diakhiri dengan kucuran asam sulfat di tenggorokan para korbannya. Dan itu sukses mengundang polisi untuk memburunya hidup-hidup. Gadis yang misterius dan mengundang rasa ingin tahu.
Di bab-bab awal, cerita terkesan biasa saja meski agak sedikit kejam. Makin kita telusuri ternyata alurnya berlapis-lapis. Sesaat kita khawatir dan mencemaskan tindakan penyekapan dan perlakuan kejam yang dialami Alex. Sesaat kemudian kita kasihan dengan para korban, dalam hal ini kaum pria yang menjadi sasaran pembunuhan Alex.
Mereka dihabisi dengan cara dituangi cairan asam sulfat langsung ke tenggorokan korban. Anomali kematian yang unik dan menarik ini sangat menarik sehingga memaksa komandan Camille terpacu untuk mengorek segala hal yang menyangkut kehidupan Alex. Sisi misterius dari novel ini memang ada pada Alex sendiri.
Hal yang paling membuat saya suka dengan novel ini adalah alur ceritanya yang seperti tidak ada habis-habisnya dalam mengupas masa lalu kehidupan keluarganya Alex terlebih pada saat sesi interogasi yang dilancarkan kepolisian untuk memaksa kakak laki-lakinya mengaku. Seru banget dan kita menjadi mafhum bahwa Alex hanyalah korban penindasan yang bermanifestasi ke korban-korbannya.
Menurutku, Anda seperti menghukum adik Anda dengan memukulinya. Tetapi sebetulnya jelas dia bahkan mungkin akan membunuhnya. Itu yang Anda mau, Monsieur Vasseur? Dia menghabisi adik Anda? Agar dia membunuh Alex? (hal 366)
Sekonyong-konyong kisah Alex menjadi jelas dan 'memaklumi' sikapnya yang menyakiti orang lain dengan begitu sadis. Titik paling menegangkan sekaligus mengesalkan adalah pada tahap interogasi yang sedikit banyak memberi dampak bagi saya yang membacanya. Melelahkan, bikin gregetan tapi juga penasaran akan akhir ceritanya.
Pendekatan psikologis sangat terasa di sini karena polisi tidak memiliki petunjuk apa pun selain mengorek keterangan dari orang terdekat Alex, kakak tirinya. Emosi yang diciptakan pengarang akibat sikap Thomas sukses membuat saya ikut kesal dan jengkel oleh permainan bad cop, good cop.
Kelegaan yang tampil di penghujung cerita benar-benar dibutuhkan karena di situlah keadilan telah dijunjung tinggi. Pengarang mampu membuat sebuah kondisi di mana latar belakang kehidupan seseorang menjadi sangat penting dan bagaimana sebuah peristiwa traumatis di masa remaja sekecil apa pun tetap akan berdampak jangka panjang bahkan di sepanjang hidup. Sebuah bacaan yang seru.













Tidak ada komentar: