November Fog
Ariya Gesang
Bhuana Ilmu Populer, 288 hal
IPusSulteng
Sinopsis
Telah terjadi penembakan beruntun di sebuah taman dan pelakunya dikenali memakai atribut topeng Jombi. Sang pelaku ini tak lain adalah Alan Safaras, alias Faruk Zulkifli si tukang servis.
Ia menginginkan keadilan benar-benar ditegakkan dan dengan caranya sendiri cowok ini menumpas para pelaku kejahatan secara membabi buta. Topeng Jombi dan urutan langkah pembasmian kejahatan selalu berdasarkan novel berjudul Jombi yang ditulis oleh pengarangnya, David Arsyad.
Setiap ada kisah yang dihasilkan oleh David dan berakhir dengan penumpasan kejahatannya, tak lama kemudian kisah yang hanya terjadi dalam imajinasi itu benar-benar diwujudkan melalui topeng Jombi yang dijalankan oleh Alan.
Belakangan diketahui antara David dan Alan sesungguhnya adalah teman sesama sekolah menengah yang karena kondisi keduanya terlalu berbeda, akhirnya keduanya memiliki jalan hidup sendiri-sendiri. David dengan segala kemudahannya sebagai anak orang kaya, mampu mencapai ketenaran dengan menjadi pengarang novel terlaris.
Sementara Alan yang berasal dari kaum papa dan terpinggirkan, merintis karir sebagai teknisi komputer dan menjadi sosok eksekutor yang ditakuti sekaligus misterius akibat sepak terjangnya sebagai pembasmi kejahatan.
Satu per satu semua kalangan tokoh baik dari partai politik, kapolres hingga bapak kapolri yang disinyalir terlibat dalam konspirasi kejahatan dibuat bertekuk lutut oleh Jombi dengan dukungan Tina Agustin, sang polwan yang sama-sama ingin menegakkan keadilan.
Ulasan
Puas sekali setelah membacanya sampai akhir. Sekilas mengingatkan pada novel yang pernah saya baca oleh pengarang lain yang sama-sama memiliki alur cerita dan kepentingan senada dalam hal mengungkap kebenaran, keadilan dan ketimpangan sosial di tengah masyarakat yang makin kritis ini.
Poin penting dalam novel ini adalah suguhan ceritanya yang nagih banget di setiap bab-babnya di mana setiap karakter tokoh dikupas baik buruknya dengan sudut pandang yang pas.
Terlalu banyak kabut di bulan November, membuat kita semua buta apa yang sebenarnya terjadi di depan mata...diperlukan beberapa gembala untuk menyalakan senter, agar wajah-wajah di balik kabut itu terlihat. (hal 197)
Tokoh pahlawan macam Alan Safaras yang nampak nyaris sempurna rasanya sah-sah saja ditampilkan demi mewujudkan kebenaran dan menegakkan keadilan, meski agak sedikit mendayu-dayu bila dilihat dari latar belakang keluarganya.
Novel yang page turner dan kehadirannya memberi kesegaran dalam tema yang sensitif namun menggebrak. Banyaknya tokoh cukup memberi beban cerita tapi untungnya tidak terjebak selain hanya menampilkan relasi penting antara Alan, Lia Arinata dan David; ketiga sahabat yang memiliki jalan hidup sangat berbeda saat dewasa.
Menarik dan seru, sepertinya dibutuhkan lebih banyak lagi kisah-kisah tentang ketidakadilan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pada saat sekarang ini.













Tidak ada komentar: